Selangkah lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali…

Tidak ada manusia yang sempurna. Pria, wanita, siapa pun pasti pernah melakukan kesalahan, tapi manusia yang tidak pernah belajar dari kesalahan, mereka akan terjebak dalam kehidupan yang mungkin mereka sendiri tidak memahaminya.

Saya bertemu banyak orang di hidup saya, dan saya belajar banyak dari mereka. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa kritik adalah sesuatu yang menjijikan dan selalu ingin Anda hindari bahkan sebisa mungkin sebelum orang lain mengatakannya kepada Anda. Jika Anda masih berpikiran seperti itu, Anda hanya berusaha untuk terlihat baik di mata orang lain dengan mempertahankan apa yang menurut Anda benar dengan segala upaya, dan itu justru akan menyakiti diri Anda sendiri.

Bertahun-tahun lalu saya juga begitu, jadi Anda memang tidak sendiri. Tapi jangan sampai Anda tertinggal sendiri di sana tanpa sempat menyadarinya.

Berikut ini ada kisah menarik yang dapat Anda renungkan.

Seorang wanita yang tengah bermasalah dengan rumah tangganya sedang ditegur oleh atasannya karena pekerjaannya yang akhir-akhir ini tidak selesai sesuai yang diharapkan.

“Saya tidak peduli apa alasan Anda, tapi pekerjaan yang Anda lakukan ini sama sekali kacau. Anda bahkan tidak menyelesaikannya tepat waktu. Konsepnya tidak matang dan analisis konsumennya pun tidak tepat sasaran. Perusahaan bergantung pada Anda tapi Anda sama sekali tidak bisa diandalkan.”

Kalau itu terjadi pada Anda, kira-kira hal apa yang akan Anda lakukan?

Mayoritas orang akan menjawab seperti berikut.

“Saya mohon maaf, tapi saya sedang ada masalah keluarga yang mengganggu pikiran saya jadi saya tidak fokus dengan pekerjaan saya akhir-akhir ini. Hal ini terjadi di luar rencana, sebelumnya saya tidak seperti ini. Tim kerja saya juga tidak bekerja dengan maksimal jadi saya lebih banyak berpikir sendiri pada pekerjaan ini.”

Ketika menjawab seperti itu yang ada dipikiran Anda adalah atasan Anda tidak menghargai kerja keras yang selama ini Anda lakukan dan kesalahan yang Anda lakukan adalah kesalahan kecil dibanding dengan apa yang telah Anda lakukan untuk perusahaan. Dan setelah keluar dari ruangan atasan, Anda akan kesal dan menyalahkan masalah-masalah yang datang akhir-akhir ini. Ujung-unjungnya mungkin Anda akan menyalahkan pasangan Anda atas kesalahan yang Anda lakukan.

Tapi sebagian orang yang sudah berhasil mencintai kritik tidak menjawab demikian.

“Saya mohon maaf, ini murni kesalahan saya. Saya memang kurang fokus pada pekerjaan ini sehingga saya tidak memikirkan konsepnya dengan matang. Saya menyadari bahwa kesalahan saya ini telah berdampak buruk bagi kondisi perusahaan. Seharusnya saya lebih memaksimalkan kerja tim saya sehingga hal ini bisa saya hindari. Tapi ini pelajaran berarti untuk saya dan saya belajar banyak dari masalah ini. Saya berharap masalah ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.”

Ketika menjawab demikian dengan tulus dan sungguh-sungguh, Anda tidak menyimpan dendam pada atasan karena kritik yang Anda terima. Semua orang punya masalah, tapi jangan jadikan masalah sebagai kambing hitam atas kesalahan yang Anda lakukan sendiri. Semakin Anda berusaha untuk menyangkal kritik, semakin lama Anda menyimpan rasa sakit yang tidak ada manfaatnya bagi kehidupan Anda. Terima risiko dari kesalahan yang Anda lakukan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi.

Sederhana bukan? Tapi saya yakin masih banyak dari kita yang belum bisa mencintai kritik.

Yang sedang menjalin hubungan asmara tentu pernah atau bahkan sering bertengkar, kan?

Ketika sedang bertengkar dengan pasangan cobalah untuk diam sejenak, kosongkan pikiran dan coba ulang kembali ucapan/kritikan dari pasangan Anda. Coba sebisa mungkin dengan hati tenang dan tanpa mencari siapa yang salah. Seringkali apa yang diucapkan pasangan Anda memang benar tapi Anda lebih dulu mengingkari dan membentengi diri Anda. Anda tidak mau menerima kritik dan berada di posisi yang salah di mata pasangan Anda. Terus menerus Anda menyangkal bahwa kesalahan yang Anda lakukan itu semata-mata karena pasangan Anda yang tidak begini lagi atau tidak melakukan ini itu sesuai yang Anda harapkan.

Mencintai kritikan ternyata dapat membuat Anda dicintai oleh orang di sekitar Anda.

Mulailah berusaha untuk mencintai kritik dan tumbuh bersamanya. Berdiri dengan tegak dan katakan dalam hati “seperti inilah saya, silakan lemparkan kritikan Anda untuk membuat saya menjalani hidup lebih baik.”

Cermin hanya menunjukkan siapa diri Anda ketika Anda berdiri dihadapannya. Anda dapat memanfaatkan mata orang di sekeliling Anda sebagai cermin untuk mengetahui siapa diri Anda di mata orang lain.

Jogjakarta

Di tengah kejenuhan ini aku mulai terkalahkan oleh rangkaian kata yang terus membujuk jariku.

Hari ini adalah hari ke 19 aku tinggal di Jogja. Tak banyak yang dapat kuceritakan kali ini, tapi setidaknya bisa menggambarkan perjuanganku melawan rasa sepi.

Ruangan kerjaku seluas 3 x 4 m, dan hanya ada aku sendiri di sini. Tak ada suara canda seperti sebelumnya. Bahagia? Ya, setidaknya aku berusaha mencobanya. Satu meja kayu dengan 2 kursi tamu dan satu kursi kerjaku, Cuma benda itu yang terlihat memenuhi ruangan selain 2 rak buku yang semuanya sudah penuh. Tepat di depan meja rak buku itu di tempatkan, satunya lagi terletak di sisi lain terpisakan oleh pintu. Tapi bagiku rak di depan mejalah yang paling spesial, di sana terdapat deretan buku terbitan lama, buku-buku sastra. Sayangnya kesibukan membuatku belum sempat menyentuhnya.

Tiba-tiba aku teringat sebelas tahun yang lalu…
Saat itu aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Kudus. Meskipun ada banyak hal yang membuatku ragu tapi aku tetap pada keputusan itu. Mulai dari pendaftaran sekolah sampai menyiapkan perlengkapan ospek semua kulakukan sendiri. Aku mencoba melupakan semua masalah yang pernah ku alami sebelumnya dan mencoba hidup baru, menjadi orang baru.

Sebenarnya agak berat harus melewati proses ini sendiri. Tapi saat itu aku percaya Tuhan ada di dekatku bahkan mungkin sangat dekat. Awalnya aku tak mengenal siapa pun bahkan ketika pertama masuk sekolah aku langsung dipanggil guru BP. Masalah sederhana, gaya berpakaian yang ternyata tidak diterima di sekolah itu. Sepatu harus hitam, rapi, dan sama seperti yang lain. Awalnya aku berpikir ini seperti neraka, tidak ada kebebasan berekspresi sama sekali. Sampai akhirnya aku mulai akrab dengan teman-teman baru. Aku merasa kota ini seperti kota mati, tidak ada yang menarik, dan sama sekali tidak menantang. Kondisi seperti ini justru membuat prilakuku berbalik, aku jadi lebih sering di rumah. Tidak ada kegiatan yang menarik sampai akhirnya aku mengerjakan semua soal-soal di LKS bahkan sebelum diajarkan. Aku juga mengikuti banyak ekstra kurikuler di sekolah. Saat itu aku merasa hidup yang begitu sederhana dan mudah. Setiap penerimaan rapor aku tidak pernah tegang karena aku sudah biasa mendapat rangking satu. Tidak, aku tidak melakukannya dengan penuh kerja keras. Aku hanya menjalani biasa saja, kalau memang hasilnya memuaskan itu berarti berkat doa orang yang teraniaya hehe… Saat itu aku hanya berusaha untuk membekukan hatiku dan fokus pada satu tujuan.

Hampir sama dengan kondisiku saat ini.

Kota baru, bekerja bersama orang-orang baru, dan situasi yang kurang menantang. Hal pertama yang kulakukan adalah “membekukan” hatiku. Aku mencoba tidak mengingat teman-teman, mencoba tidak mengingat pacar, dan mencoba tidak mengingat tentang kisah percintaan. Tepat, jangan mengingat hal-hal yang bisa membuatmu sedih di tempat baru. Fokus pada pekerjaan membuat kita tidak merasa kesepian. Selanjutnya adalah menciptakan “tantangan”. Ketika tantangan itu tidak ada, maka buatlah sendiri! Banyak orang yang tidak suka hal-hal yang menantang tapi bagiku itu adalah tolak ukur sebuah pencapaian. Setelah menciptakan tantangan lalu apa lagi? Membahagiakan diri sendiri. Aku mencoba mengisi waktu senggang pergi ke mall memperhatikan perilaku orang, melihat sesuatu yang baru, memilah ide-ide yang tiba-tiba saja datang. Melakukan apa saja yang ingin kulakukan dan memakan apa saja yang ingin kumakan.

Jujur saja kondisi di daerah berbeda dengan kantor di Jakarta. Terlihat banyak ruangan yang bocor, internet yang sering mati, OB yang susah dicari karena cuma satu dan melayani untuk semua, gelas minum yang kotor, air minum yang tidak seperti biasanya, dan masih banyak hal-hal lainnya. Tapi aku memasukkan semua masalah itu menjadi sebuah tantangan.

Kalau dipikir-pikir negara mungkin sama saja seperti kantor cabang, semakin jauh semakin tak terpikirkan dan lambat penanganannya. Dana untuk membetulkan atap yang bocor dan rembes tak kunjung disetujui. Sekretaris redaksi pun mengeluh sudah lama minta kertas kop tapi tak kunjung datang. Kalau diibaratkan negara, rakyat yang tinggal di daerah pinggiran mengeluh sekolah ambruk, fasilitas yang tidak memadai tapi lambat penanganannya dan mungkin sampai terabaikan. Tapi dengan berada di posisi ini membuat kita mengerti menjadi posisi di daerah yang mungkin sedikit terabaikan.

Dan redupnya matahari mengingatkanku satu hal, dalam hidup kita pasti akan melewati sisi terang dan gelap tapi selalu ada pelangi serta bintang yang membuatnya terlihat indah. Jadi temukan pelangi dan bintang itu! Semangat!

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.